JCCNetwork.id– Petani daerah Gedongan, Sleman, Mochoni, dengan bijak menghadapi tantangan musim kemarau panjang dan rencana penutupan selokan Mataram yang berfungsi mengaliri lahan pertanian mereka.
Mochoni mengungkapkan bahwa situasi ini tidak membuatnya cemas, karena ia memiliki strategi yang cerdik untuk menjaga produktivitas pertaniannya.
Dalam wawancara dengan Jurnalis JCCNetwork di Sinduadi, Mlati, Sleman Yogyakarta, Mochoni menjelaskan bahwa ia akan mengalihkan perhatiannya ke tanaman jangka pendek atau mengambil jeda sementara waktu selama penutupan selokan Mataram.
“Saya istirahat ndak bisa bertanam jeda dulu,” kata Mochoni dengan bijak, Kamis (31/8/2023).
Mochoni sangat menyadari bahwa memaksa tanaman saat kekurangan air bisa berakibat buruk pada hasil panen. Oleh karena itu, Ia merencanakan untuk beralih ke tanaman jangka pendek, seperti kangkung, pada bulan September. Pasalnya tanaman ini membutuhkan lebih sedikit air, sehingga cocok untuk kondisi saat ini.
“Kalau bulan september itu saya manfaatkan tanam sayuran seperti kangkung. Karena sama-sekali ndak ada air, ya kalau kita mau nanam sayuran ya ambil dari kali atau dibawah dari rumah atau juga sudah punya simpanan blumbang (kolam) jadi ngak susah,” ungkapnya.
Tentang penutupan selokan Mataram, Mochoni berpendapat bahwa dampaknya tidak signifikan bagi pertaniannya karena ia dapat beralih ke tanaman yang lebih ramah terhadap kondisi kering atau yang berjangka pendek. Namun, dia juga menyadari bahwa situasi ini mungkin berbeda bagi petani lain, karena tergantung pada jenis tanaman yang mereka tanam.
“Penutupan Selokan ini, saya beralih menanam sayuran karena tak banyak butuhkan air. Tetapi kalo petani yang lain, ya saya ndak tahu,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, petani Sinduadi lainnya, Rustamaji, juga telah melakukan persiapan dengan membuat kolam yang cukup dalam untuk menampung air. Langkah itu sekaligus mengantisipasi kemungkinan kekeringan akibat penutupan selokan Mataram.
“Di sini sudah bikin blumbang (kolam) lebarnya satu setengah meter panjang dua setengah, dalamnya dua meter. Sudah dibuat untuk antisipasi kekeringan akibat penutupan selokan,” beber Rustamaji.




