JCCNetwork.id- Bank Indonesia (BI) memperkirakan cadangan devisa Indonesia berpeluang kembali meningkat hingga mencapai USD147,5 miliar. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Agustus 2026 yang berada di level USD146,5 miliar.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, potensi peningkatan cadangan devisa tersebut berasal dari tambahan penerimaan devisa yang akan dibukukan oleh pemerintah melalui Kementerian Keuangan.
Hal itu disampaikan Destry dalam rapat bersama Komite 4 DPD RI di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Menurut dia, kondisi cadangan devisa Indonesia hingga saat ini masih berada dalam posisi yang solid.
“Sampai saat ini, alhamdulillah masih terjaga cukup solid di mana cadangan devisa kami berada di level USD146,5 miliar. Nanti kalau ada tambahan lagi dana, jadi USD147,5 miliar,” ujar Destry dalam tayangan Zona Bisnis Metro TV, Rabu, 16 September 2026.
Destry menjelaskan, tingginya posisi cadangan devisa menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia. Dengan cadangan devisa yang memadai, kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pembayaran luar negeri juga tetap terjaga.
Ia menyebut posisi cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan kebutuhan impor selama sekitar 5,4 bulan. Angka tersebut berada jauh di atas batas minimum yang umum digunakan sebagai indikator kecukupan cadangan devisa.
“Kalau hitungan cadangan devisa itu biasa kita pakai bulan impor. Threshold-nya adalah tiga bulan impor, kita di 5,4 bulan impor. Insyaallah kalau ada tambahan lagi dari Pak Menteri Keuangan, kita akan bisa di atas itu,” tambahnya.
Naik dari Juli 2026
Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat USD146,5 miliar. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan posisi pada akhir Juli 2026 yang berada di level USD145,3 miliar.
Dengan demikian, terjadi kenaikan sekitar USD1,2 miliar dalam kurun waktu satu bulan.
Kenaikan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ketersediaan aset devisa Indonesia masih mampu dipertahankan pada level yang relatif kuat. BI menilai kondisi tersebut memberikan ruang yang cukup dalam menjaga stabilitas sektor eksternal, termasuk dalam menghadapi kebutuhan pembayaran internasional.
Apabila tambahan devisa yang disampaikan Destry terealisasi, posisi cadangan devisa Indonesia berpotensi mencapai USD147,5 miliar. Dengan angka tersebut, cadangan devisa akan semakin berada di atas standar kecukupan yang diukur berdasarkan kebutuhan impor.
BI menggunakan indikator bulan impor sebagai salah satu ukuran untuk melihat ketahanan cadangan devisa. Ambang batas yang digunakan berada pada tiga bulan impor, sementara posisi Indonesia saat ini sudah mencapai 5,4 bulan impor.
Destry menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan perekonomian Indonesia di tengah dinamika global. Cadangan devisa yang memadai juga menjadi salah satu fondasi dalam mendukung stabilitas eksternal dan menjaga kepercayaan terhadap perekonomian nasional.
Dengan tambahan dana dari pemerintah yang diproyeksikan masuk, posisi cadangan devisa Indonesia berpotensi mencatatkan level baru setelah sebelumnya meningkat dari USD145,3 miliar pada Juli menjadi USD146,5 miliar pada Agustus 2026.



