JCCNetwork.id-Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (25/6/2026) setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan hasil yang sejalan dengan ekspektasi pasar.
Kondisi tersebut memicu pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sekaligus meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik 0,2 persen menjadi US$4.007,65 per troy ons setelah sebelumnya sempat terkoreksi hingga 1 persen.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,3 persen ke level US$4.021 per troy ons.
Kenaikan juga terjadi pada logam mulia lainnya.
Harga perak spot meningkat 0,4 persen menjadi US$57,65 per ons, platinum naik 0,9 persen menjadi US$1.593,15 per ons, sedangkan paladium menguat 1 persen ke posisi US$1.177,73 per ons.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, mengatakan pergerakan emas cenderung stabil karena data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS tidak memberikan kejutan bagi pasar.
“Data PCE sebagian besar sesuai dengan ekspektasi. Itu menjadi salah satu alasan mengapa harga emas relatif tenang hari ini,” ujar Meger dilansir dari Reuters.
Menurutnya, realisasi data PCE yang sesuai dengan perkiraan menjadi faktor utama yang membuat harga emas bergerak relatif tenang pada perdagangan hari itu.
Data menunjukkan indeks harga PCE AS pada Mei 2026 tumbuh 4,1 persen secara tahunan.
Angka tersebut menjadi kenaikan terbesar sekaligus pertama kalinya kembali menembus level 4 persen sejak April 2023, serta sesuai dengan proyeksi ekonom yang dihimpun Reuters.
Usai publikasi data inflasi, dolar AS berbalik melemah sehingga harga emas menjadi lebih kompetitif bagi pembeli di luar Amerika Serikat.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS turut mengalami penurunan.
Sementara itu, data CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Desember kini diperkirakan sebesar 80 persen, turun dari 85 persen sebelum data PCE diumumkan.
Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 61 persen sebelum pertemuan kebijakan moneter bank sentral AS pekan lalu.
“Fokus utama tetap pada tekanan inflasi ke depan. Itu menjadi salah satu alasan mengapa harga emas melemah dalam beberapa sesi terakhir,” katanya.
Meski sentimen pasar membaik, Meger menilai tekanan inflasi masih akan menjadi perhatian utama investor dalam beberapa waktu mendatang dan tetap berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga emas.
Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (24/6/2026), harga emas sempat turun di bawah level psikologis US$4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak November 2025.
Penurunan itu dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga setelah The Fed menyampaikan sikap kebijakan yang lebih agresif atau hawkish.
Secara umum, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas karena investor lebih memilih instrumen keuangan yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, meskipun logam mulia tersebut dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi.
Di pasar komoditas lainnya, harga minyak dunia kembali melemah ke level sebelum konflik Iran.
Pelemahan dipicu ekspektasi meningkatnya pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah setelah tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik Iran serta dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.



