JCCNetwork.id- Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Jumat (19/6/2026). Mata uang nasional tercatat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring menguatnya mata uang Negeri Paman Sam yang masih didukung kebijakan suku bunga ketat dari Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data perdagangan Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp17.848 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 54 poin atau sekitar 0,30 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.794 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga mencatat tren serupa. Rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.821 per dolar AS, lebih rendah dibandingkan posisi pembukaan sehari sebelumnya yang berada pada level Rp17.748 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar global yang masih dipengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sikap Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 hingga 3,75 persen dinilai terus memberikan dukungan terhadap penguatan dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Menurutnya, mata uang Garuda berpotensi bergerak pada rentang Rp17.790 hingga Rp17.840 per dolar AS.
Ia menjelaskan bahwa sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian pelaku pasar adalah meningkatnya optimisme terhadap kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang diharapkan mampu meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Kesepakatan tersebut disebut membuka peluang normalisasi aktivitas perdagangan energi global, terutama terkait lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur strategis distribusi minyak dunia. Dalam memorandum yang disepakati kedua pihak, Iran dikabarkan akan memberikan akses bebas hambatan terhadap lalu lintas perdagangan di kawasan tersebut selama masa negosiasi yang berlangsung 60 hari.
Pasar menilai langkah tersebut berpotensi meningkatkan stabilitas pasokan energi global dan mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan distribusi minyak yang sebelumnya sempat memicu ketidakpastian ekonomi internasional.
Meski demikian, sentimen positif dari perkembangan geopolitik tersebut belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi mata uang negara berkembang. Sikap Federal Reserve yang masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lanjutan pada akhir tahun menjadi faktor yang membatasi penguatan aset berisiko, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada 18-19 Juni 2026. Dalam rapat tersebut, bank sentral memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.
Selain BI-Rate, Bank Indonesia juga meningkatkan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mengantisipasi tekanan inflasi dalam jangka menengah.
Bank Indonesia menegaskan langkah penyesuaian suku bunga dilakukan untuk memastikan inflasi tetap terkendali sesuai target pemerintah, yakni berada pada kisaran 2,5 persen dengan toleransi plus minus satu persen sepanjang 2026 hingga 2027.
Menurut Ibrahim, keputusan BI menunjukkan komitmen kuat otoritas moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif hingga 75 basis poin.
“Pada RDG Mingguan pada pekan lalu, BI kembali mengejutkan pasar dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Artinya, dalam waktu kurang dari satu bulan, BI sudah menaikkan suku bunga acuan sebesar total 75 basis poin,” terang Ibrahim.
Kondisi tersebut mencerminkan upaya agresif bank sentral untuk menjaga daya tarik aset domestik, menahan arus keluar modal asing, sekaligus memperkuat ketahanan rupiah terhadap tekanan eksternal yang masih berpotensi berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data ekonomi global berikutnya, terutama perkembangan inflasi dan tenaga kerja di Amerika Serikat yang berpotensi menjadi petunjuk arah kebijakan Federal Reserve pada semester kedua tahun ini. Arah kebijakan tersebut diyakini akan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek maupun menengah.



