JCCNetwork.id- Bayangkan sebuah kota kecil yang tenang di Prancis Selatan. Tanggal 15 Agustus 1951, warga Pont-Saint-Esprit menjalani hari seperti biasa. Mereka membeli roti hangat untuk sarapan, menyantapnya bersama keluarga, tanpa menyadari bahwa makanan paling sederhana itu akan mengubah hidup mereka menjadi mimpi buruk.
Dalam hitungan jam, ratusan orang mulai jatuh sakit. Awalnya hanya mual, muntah, demam, dan sakit perut. Namun, situasi segera berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Orang-orang mulai berhalusinasi. Ada yang berteriak ketakutan karena melihat monster yang tidak ada. Ada yang merasa tubuhnya terbakar. Bahkan seorang pria percaya dirinya adalah pesawat terbang, lalu melompat dari jendela lantai dua hingga tewas. Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun juga dilaporkan mencoba mencekik ibunya sendiri dalam keadaan tidak sadar.
Dokter setempat kemudian menyebut malam itu sebagai nuit d’apocalypse atau “malam kiamat”.
Kepanikan melanda seluruh kota. Rumah sakit penuh sesak. Lebih dari 250 orang menjadi korban, 50 di antaranya harus dirawat di rumah sakit jiwa, dan sedikitnya tujuh orang meninggal dunia.
Penyelidikan besar pun dimulai. Para dokter menemukan satu kesamaan. Hampir seluruh korban membeli roti dari toko roti milik Roch Briand. Dugaan pun mengarah pada roti yang kemudian dikenal sebagai “roti terkutuk” atau Le Pain Maudit.
Namun, misterinya jauh lebih rumit.
Ternyata, beberapa minggu sebelumnya, desa-desa di sekitar Pont-Saint-Esprit sudah melaporkan tepung berkualitas buruk. Tepung itu berwarna abu-abu, lengket, bahkan dipenuhi cacing. Sebanyak 42 tukang roti juga mengeluhkan kualitas tepung yang mereka terima.
Jejak penyelidikan membawa polisi ke sistem distribusi tepung pemerintah Prancis pasca Perang Dunia Kedua. Saat itu, banyak wilayah menerima tepung berkualitas rendah akibat sistem monopoli distribusi pangan.
Para penyelidik kemudian menemukan adanya praktik pencampuran biji-bijian berkualitas buruk, termasuk gandum hitam yang rentan terkontaminasi jamur beracun.
Teori pertama menyebut penyebabnya adalah jamur ergot, jamur yang menghasilkan senyawa mirip LSD dan dapat memicu halusinasi ekstrem.
Namun misteri ini tidak pernah benar-benar selesai. Teori lain bermunculan. Ada yang menduga keracunan merkuri dari fungisida pertanian bernama Panogen. Ada pula yang menyalahkan jamur beracun lain, bahkan bahan kimia pemutih tepung ilegal.
Yang paling kontroversial muncul puluhan tahun kemudian. Sebuah buku investigasi menuduh Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat atau CIA menjadikan kota kecil ini sebagai lokasi eksperimen rahasia LSD dalam program perang biologis. Meski begitu, banyak sejarawan dan ilmuwan menolak teori tersebut karena dianggap tidak didukung bukti medis yang kuat.
Hingga hari ini, tragedi Pont-Saint-Esprit tetap menjadi salah satu misteri keracunan massal paling mengerikan dalam sejarah dunia.
Sebuah pengingat bahwa terkadang, ancaman paling mematikan bukan datang dari perang atau senjata, melainkan dari sepotong roti yang tampak biasa di atas meja makan.



