Mbediding Landa DIY, Warga Diminta Waspada

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Suhu udara dingin melanda wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini dipicu oleh penguatan angin Monsun Timuran atau dikenal sebagai Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin dari wilayah selatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mencatat, suhu terendah terjadi pada tanggal 9 dan 10 Juli 2025 di Pakem, Kabupaten Sleman, dengan angka minimum mencapai 18 derajat Celsius. Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Warjono, menjelaskan bahwa kondisi ini umum terjadi selama puncak musim kemarau, dan secara lokal dikenal sebagai fenomena mbediding.

- Advertisement -

“Kondisi suhu udara yang lebih dingin ini karena adanya pergerakan massa udara dari Australia yang membawa massa udara dingin dan kering melewati wilayah Indonesia atau disebut dengan Monsun Dingin Australia,” ujar Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta Warjono.

Fenomena suhu dingin ini juga dipengaruhi oleh rendahnya kelembaban udara serta minimnya tutupan awan. Menurut Warjono, minimnya kandungan uap air di tanah dan udara menyebabkan energi panas dari permukaan bumi yang terserap pada siang hari langsung terlepas ke atmosfer tanpa tertahan awan, sehingga menyebabkan udara menjadi lebih dingin pada malam hari.

“Tutupan awan relatif sedikit dan pantulan panas dari bumi yang diterima di siang hari tidak tertahan oleh awan, tetapi langsung terlepas dan hilang ke angkasa,” ujar Warjono.

- Advertisement -

Angin Monsun Timuran sendiri merupakan angin musiman yang bergerak dari Benua Australia ke Benua Asia dan berlangsung pada periode April hingga Oktober setiap tahun. Angin ini bersifat kering karena berasal dari wilayah bertekanan tinggi dan memiliki kandungan uap air yang rendah.

Warjono memperkirakan kondisi mbediding akan berlangsung hingga puncak musim kemarau berakhir, yang diprediksi pada bulan Agustus 2025 mendatang. Ia mengimbau masyarakat agar mewaspadai perubahan cuaca ini dengan menjaga kesehatan tubuh.

“Kami mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat, cukup minum air, menjaga pola tidur, serta mengenakan pakaian hangat saat malam hingga pagi hari,” katanya.

BMKG juga mengingatkan bahwa fenomena ini merupakan kondisi normal yang berulang setiap tahun dan bukan merupakan tanda anomali iklim ekstrem. Namun, masyarakat diminta tetap waspada terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Daftar Harga HP Motorola Januari 2026, Moto G57 Power Resmi Meluncur di Indonesia

JCCNetwork.id-Pasar ponsel pintar Indonesia kembali diramaikan Motorola pada awal 2026. Merek asal Amerika Serikat ini menawarkan sejumlah model dengan rentang harga Rp 1 jutaan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER