Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur Jelang Hari Bhayangkara

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80 pada 1 Juli 2026, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke makam Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di kompleks Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan reflektif Polri untuk mengenang jasa para tokoh bangsa yang berperan dalam perjalanan reformasi dan demokrasi Indonesia.

Kedatangan Kapolri disambut langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Machfudz atau Gus Kikin. Dalam penyambutan tersebut, Kapolri menerima pengalungan sorban sebagai bentuk penghormatan sebelum melanjutkan rangkaian doa bersama dan tabur bunga di pusara Gus Dur.

- Advertisement -

Kegiatan ziarah berlangsung khidmat dengan diikuti sejumlah pejabat utama Polri dan tokoh pesantren. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada salah satu mantan kepala negara, agenda tersebut juga menjadi momen bagi institusi kepolisian untuk mengingat kembali sejarah reformasi Polri yang tidak terlepas dari kebijakan strategis yang lahir pada masa pemerintahan Gus Dur.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir menegaskan bahwa kunjungan ke makam Gus Dur memiliki makna yang lebih luas dibanding sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, Polri memandang Gus Dur sebagai salah satu tokoh bangsa yang memberikan kontribusi besar terhadap penguatan institusi kepolisian modern di Indonesia.

Ia menjelaskan, Gus Dur memiliki peran penting dalam mendorong reformasi sektor keamanan, terutama melalui kebijakan pemisahan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Langkah tersebut menjadi titik balik dalam sejarah reformasi nasional karena menempatkan Polri sebagai lembaga sipil yang mandiri dengan fokus utama pada pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat.

- Advertisement -

“Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan Polri kepada para tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia. Gus Dur memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, termasuk dalam proses penguatan institusi Polri sebagai lembaga yang profesional dan mandiri,” ujar Johnny kepada wartawan, Sabtu (20/6/2026).

Dalam catatan sejarah, Gus Dur yang menjabat Presiden RI pada periode 1999 hingga 2001 dikenal sebagai salah satu tokoh yang konsisten mendorong reformasi kelembagaan pasca-Orde Baru. Salah satu kebijakan penting yang lahir pada masa pemerintahannya adalah pemisahan TNI dan Polri yang kemudian diperkuat melalui Ketetapan MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta Ketetapan MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri.

Kebijakan tersebut dinilai menjadi fondasi utama bagi terbentuknya Polri sebagai institusi yang profesional dan independen. Sejak saat itu, Polri tidak lagi berada di bawah struktur militer dan menjalankan fungsi keamanan dalam negeri secara terpisah sesuai prinsip negara demokrasi.

Menurut Johnny, semangat reformasi yang diwariskan Gus Dur tetap relevan hingga saat ini, terutama ketika Polri terus melakukan pembenahan internal untuk meningkatkan profesionalisme, transparansi, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Ia menambahkan, momentum Hari Bhayangkara ke-80 menjadi kesempatan bagi seluruh anggota Polri untuk memperkuat komitmen dalam menjaga amanat reformasi yang telah diperjuangkan para pendahulu bangsa. Nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur, lanjutnya, tidak hanya berkaitan dengan reformasi kelembagaan, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap keberagaman dan toleransi di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Selain dikenal sebagai tokoh reformasi, Gus Dur juga dikenang luas sebagai figur yang memperjuangkan pluralisme dan persatuan nasional. Pemikirannya mengenai demokrasi, hak asasi manusia, serta penghargaan terhadap perbedaan masih menjadi rujukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hingga kini.

“Jejak pemikiran dan kebijakan Gus Dur menjadi bagian penting dari pembentukan Polri yang profesional, modern, dan mandiri. Selain itu, beliau juga dikenang sebagai ‘Bapak Pluralisme’ karena konsistensinya dalam memperjuangkan nilai-nilai toleransi,” imbuh Johnny.

Melalui ziarah tersebut, Polri berharap semangat pengabdian, toleransi, dan reformasi yang diwariskan Gus Dur dapat terus menjadi inspirasi bagi seluruh personel kepolisian dalam menjalankan tugas menjaga keamanan serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Momentum itu sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan reformasi Polri tidak dapat dipisahkan dari kontribusi para tokoh bangsa yang telah meletakkan dasar bagi lahirnya institusi kepolisian yang profesional, modern, dan berorientasi pada kepentingan publik.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Eksekusi Hotel Sultan Berlangsung Tegang

JCCNetwork.id- Proses eksekusi lahan dan bangunan Hotel Sultan yang berada di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, berlangsung ricuh dan diwarnai ketegangan...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER