JCCNetwork.id- Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat setelah gunung tertinggi di Pulau Jawa itu mengalami erupsi pada Selasa (26/5/2026) pagi sekitar pukul 06.28 WIB. Letusan tersebut memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak gunung.
“Telah terjadi erupsi G. Semeru, Jawa Timur pada tanggal 26 Mei 2026 pukul 06:28 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 4.676 m di atas permukaan laut),” tulis keterangan magma ESDM.
Berdasarkan laporan resmi petugas pengamatan gunung api, kolom abu terpantau berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak condong ke arah barat daya hingga barat. Aktivitas erupsi juga terekam melalui alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 17 mm dan berlangsung selama kurang lebih 1 menit 49 detik.
Dalam keterangannya, petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru menyebutkan bahwa tinggi kolom abu mencapai sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik Semeru masih cukup tinggi dan berpotensi menimbulkan bahaya bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana.
Hingga kini, status aktivitas Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Pemerintah dan petugas vulkanologi mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga diminta menghindari area dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan tersebut dinilai berpotensi terdampak perluasan awan panas guguran maupun aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak gunung.
Tidak hanya itu, warga maupun pendaki dilarang beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru. Area tersebut dinilai rawan terhadap lontaran material pijar yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat peningkatan aktivitas vulkanik.
Petugas juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan seperti awan panas, guguran lava, hingga banjir lahar, khususnya di aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru. Sejumlah daerah yang perlu mendapat perhatian antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan.
“Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” demikian keterangan magma ESDM.
Erupsi Semeru beberapa waktu terakhir diketahui masih terjadi secara fluktuatif. Karena itu, masyarakat diminta terus memantau perkembangan informasi resmi dari petugas pengamatan gunung api dan pemerintah daerah setempat guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan.













