JCCNetwork.id- Polda Metro Jaya menyiagakan sekitar 2.000 personel gabungan TNI dan Polri untuk mengamankan perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026 di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat berjalan tertib, aman, dan terkendali.
Pengamanan difokuskan pada titik-titik yang diprediksi menjadi pusat keramaian, khususnya sepanjang koridor Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan MH Thamrin.
Ruas tersebut kerap menjadi magnet warga yang merayakan malam tahun baru, baik dengan berjalan kaki maupun konvoi kendaraan bermotor menuju lokasi wisata dan pusat hiburan.
Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Komarudin mengatakan, pihaknya telah memetakan sejumlah kawasan yang berpotensi mengalami lonjakan massa dan kepadatan arus lalu lintas.
Lokasi itu antara lain kawasan Monas, Lapangan Banteng, Sarinah, Bundaran Hotel Indonesia, Dukuh Atas, hingga area SCBD dan FX Senayan.
“Pengamanan dilakukan untuk memastikan aktivitas malam pergantian Tahun Baru 2026 dapat berlangsung lancar dan kondusif,” ujar Komarudin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (31/12).
Menurutnya, personel di lapangan telah dibekali pola pengaturan lalu lintas dan skema pengamanan khusus guna mengantisipasi kemacetan maupun gangguan ketertiban di titik-titik rawan tersebut.
Selain pengamanan, Polda Metro Jaya juga menegaskan larangan penggunaan knalpot brong selama perayaan malam tahun baru. Larangan ini diberlakukan karena knalpot tidak standar dinilai melanggar ketentuan hukum serta berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Ojo Ruslani menegaskan, penggunaan knalpot brong tidak hanya melanggar Undang-Undang Lalu Lintas, tetapi juga dapat memicu gangguan ketertiban umum.
“Selain melanggar aturan, suara bising dari knalpot brong dapat memicu emosi dan konflik sosial, terutama bagi warga yang merasa terganggu,” kata Ojo.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan knalpot brong dan merayakan malam pergantian tahun secara sederhana. Imbauan tersebut juga disampaikan sebagai bentuk empati terhadap warga yang tengah menghadapi dampak bencana di sejumlah wilayah Pulau Sumatra.
“Rayakan tahun baru dengan bijak dan sederhana, sebagai wujud empati kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujarnya.
























