JCCNetwork.id- Jelang Pemilu 2024, sejumlah langkah diambil untuk menjamin kelancaran proses demokrasi di wilayah yang rawan konflik. Berada di garis depan, Bawaslu RI merangkul jajaran Bawaslu daerah yang memiliki latar belakang sebagai tokoh adat.
Mereka memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan kawasan rawan konflik dalam segala tahapan Pemilu mendatang.
Para tokoh adat yang terpilih menjadi garda terdepan dalam meredam gejolak yang mungkin muncul di daerah mereka. Dengan kearifan lokal dan pengalaman mendalam, mereka menjadi penengah yang ampuh untuk mengatasi perbedaan dan meminimalisir potensi konflik antarsuku yang bisa merusak keamanan dan distribusi logistik pemilu.
“Tidak sedikit teman-teman Bawaslu yang terpilih memiliki latar belakang tokoh masyarakat adat. Kenapa ini dilakukan? Ini antisipasi sebagai tindakan pencegahan Bawaslu,” ujar Anggota Bawaslu RI, Lolly Suhenty, kepada awak media dikutip.
Tidak hanya itu, Bawaslu juga menunjukkan kewaspadaan lebih dengan meluncurkan Indeks Kerawanan Pemilu Tematik sebelum proses penetapan calon dan kampanye dimulai. Lima Tematik krusial menjadi perhatian utama, di antaranya adalah politik uang, netralitas ASN, politisasi SARA, kampanye di media sosial, dan pemilu luar negeri.
Dengan keterlibatan para tokoh adat yang bijaksana dan Indeks Kerawanan Pemilu Tematik yang cermat, diharapkan Pemilu 2024 dapat menjadi momentum bersejarah bagi kemajuan demokrasi tanah air, bebas dari gangguan dan ketegangan yang merugikan.






