JCCNetwork.id- Bayangkan sebuah negeri di mana gaya rambut bukan sekadar pilihan, tetapi penentu hidup dan mati. Di China abad ke-17, sebuah keputusan kekaisaran mengubah wajah para pria selamanya.
Melansir dari berbagai sumber di bawah kekuasaan Dinasti Qing, aturan baru dikeluarkan semua pria harus mencukur bagian depan kepala hingga licin, sementara bagian belakang dibiarkan panjang dan dikepang. Gaya ini disebut Bianzi atau Toucang. Namun, bagi kaum Han, ini bukan sekadar gaya rambut, melainkan simbol kehormatan dan bakti kepada orang tua.
Perlawanan pun meletus. Banyak pria Han menolak mencukur rambut mereka, menganggapnya sebagai penghinaan besar. Tapi Dinasti Qing tak memberi ruang untuk pembangkangan. Mereka hanya punya dua pilihan: mengikuti aturan atau kehilangan kepala mereka.
Tak terhindarkan, China dipenuhi pria-pria dengan rambut setengah botak dan kepang panjang. Namun, di balik penampilan yang seragam, ada luka dan amarah yang membara. Gerakan perlawanan anti-Toucang pun muncul, memperjuangkan hak untuk tetap mempertahankan rambut mereka.
Pertempuran demi pertempuran terjadi, tetapi kekaisaran tetap teguh. Selama lebih dari dua setengah abad, gaya rambut ini menjadi tanda loyalitas kepada dinasti. Barulah pada 1911, seiring runtuhnya Dinasti Qing, kebijakan ini dihapuskan.
Namun, warisan Bianzi tetap melekat. Hingga kini, dalam film dan budaya populer, rambut khas ini masih menjadi pengingat akan masa di mana sebuah kepang bisa menentukan nasib seseorang.



