JCCNetwork.id- Memasuki puncak musim kemarau, warga di sejumlah wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, mulai mengalami krisis air bersih. Kekeringan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan sejumlah sumber mata air mengering, memaksa masyarakat harus menempuh jarak cukup jauh demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Di Kampung Kramat, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, krisis air bersih telah berlangsung selama hampir satu bulan. Warga terpaksa bergantian mengambil air dari sumber yang debitnya terus menurun. Dalam kondisi ekstrem, mereka harus berjalan hingga satu kilometer sambil memikul air untuk dibawa pulang.
“Sulit air bersih mas, ambilnya jauh dipikul sampai 1 kilometer. Saat ini mulai sulit, biasa musim kemarau begini harus giliran ambil airnya. Kalau bareng-bareng enggak cukup airnya di sumber mata air,” ujar Ahmad Tohir, Selasa (29/7/2025).
Keluhan serupa disampaikan Karno, warga lainnya. Ia mengaku setiap musim kemarau tiba, keluarganya harus menghemat penggunaan air bersih, termasuk mengurangi kebutuhan untuk ternak mereka.
Kekeringan tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada kegiatan pertanian dan peternakan yang menjadi mata pencaharian utama sebagian warga.
Perangkat Desa Kedungjati, Solikin, membenarkan bahwa beberapa dusun di wilayahnya sudah terdampak kekeringan. Warga, menurutnya, bahkan mulai mencari sumber air alternatif di tengah hutan.
“Setiap musim kemarau seperti ini kesulitan air bersih. Biasanya nanti ambilnya ya di hutan. Orang sini bilangnya ambil di belik lah atau kubangan,” terangnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan mulai melakukan pemetaan wilayah terdampak kekeringan. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penyaluran bantuan air bersih melalui program droping yang rutin dilakukan setiap musim kemarau.



