JCCNetwork.id – Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Kamis (8/10/2026) pukul 18.28 WIB.
Meski telah dua kali erupsi dalam sepekan, status aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level II atau Waspada.
Berdasarkan rekaman seismogram, erupsi terbaru memiliki amplitudo maksimum 46 milimeter dengan durasi sekitar 4 menit 45 detik.
Namun, tinggi kolom abu tidak dapat dipastikan lantaran puncak gunung tertutup kabut.
Petugas Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menyatakan dua kejadian erupsi yang berlangsung pada Senin (5/10/2026) dan Kamis belum cukup untuk menyimpulkan adanya peningkatan aktivitas vulkanis.
Menurut Andi, erupsi yang terjadi satu atau dua kali lalu berhenti masih dapat dikategorikan sebagai aktivitas yang wajar.
Fenomena tersebut diduga merupakan pelepasan sisa energi dari aktivitas vulkanis sebelumnya.
Ia menjelaskan, evaluasi terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau harus dilakukan berdasarkan perkembangan hasil pemantauan dalam beberapa waktu ke depan.
Indikasi peningkatan aktivitas perlu dilihat dari pola erupsi yang berlangsung berkelanjutan dan memiliki intensitas besar.
Masyarakat Diminta Jauhi Radius 2 Kilometer
Di tengah aktivitas erupsi tersebut, masyarakat dan nelayan di sekitar Selat Sunda diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 kilometer.
Pembatasan jarak ini bertujuan mengurangi risiko keselamatan jika terjadi aktivitas vulkanis lanjutan.
Andi juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak menghentikan aktivitas sehari-hari selama tetap mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku.
Selain itu, warga diminta mengakses informasi mengenai perkembangan Gunung Anak Krakatau melalui sumber resmi.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Pemantauan secara berkelanjutan akan menjadi dasar evaluasi kondisi Gunung Anak Krakatau, termasuk dalam menentukan langkah mitigasi apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanis.
























