Harga Emas Naik 1,1 Persen

BACA JUGA

OLAHRAGA

TECHNOLOGY

HIBURAN

JCCNetwork.id- Harga emas dunia kembali mencatat penguatan pada perdagangan Rabu (12/8/2026). Kenaikan terjadi setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) untuk Juli menunjukkan perkembangan yang sesuai dengan proyeksi pasar. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang lebih ketat.

Harga emas spot tercatat naik 1,1 persen menjadi USD4.416,15 per ons, sedangkan emas berjangka menguat 0,8 persen ke level USD4.476,35 per ons. Pergerakan tersebut menunjukkan investor kembali meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai di tengah perubahan ekspektasi terhadap arah suku bunga AS.

- Advertisement -

Data inflasi menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar logam mulia. Pelaku pasar menilai perkembangan harga konsumen AS dapat memberikan gambaran mengenai ruang yang dimiliki The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, inflasi konsumen pada Juli meningkat 0,1 persen secara bulanan. Angka tersebut berbalik dari penurunan 0,4 persen yang tercatat pada Juni.

Secara tahunan, inflasi utama tercatat sebesar 3,4 persen pada Juli, turun dibandingkan 3,5 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan komponen makanan dan energi naik 0,2 persen secara bulanan setelah tidak mengalami perubahan pada Juni.

- Advertisement -

Dalam basis tahunan, inflasi inti juga menunjukkan perlambatan menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,6 persen.

Perkembangan tersebut menjadi sentimen positif bagi emas karena inflasi yang tidak lebih tinggi dari perkiraan dapat mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

Pasar kini mengalihkan perhatian pada data ekonomi AS berikutnya, termasuk indeks harga produsen (PPI) Juli yang dijadwalkan dirilis Kamis (13/8/2026). Data tersebut dinilai penting karena dapat memberikan gambaran mengenai tekanan harga dari sisi produsen.

Meski demikian, The Fed tidak hanya mengandalkan data indeks harga konsumen maupun PPI dalam menentukan kebijakan. Bank sentral AS juga menggunakan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai salah satu indikator penting untuk mengukur perkembangan inflasi.

Komponen dari CPI dan PPI turut menjadi bagian dalam perhitungan indeks PCE. Karena itu, rangkaian data inflasi yang dirilis sepanjang periode ini tetap menjadi perhatian investor untuk memperkirakan langkah The Fed.

Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga juga berubah setelah data CPI diumumkan. Berdasarkan CME FedWatch, peluang Federal Open Market Committee (FOMC) mempertahankan suku bunga pada pertemuan September meningkat menjadi sekitar 60 persen, dibandingkan sekitar 54 persen sebelum data inflasi dirilis.

Perubahan ekspektasi tersebut ikut memberikan dorongan terhadap harga emas. Secara umum, emas cenderung mendapatkan keuntungan ketika pasar memperkirakan suku bunga lebih rendah atau tidak mengalami kenaikan karena biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga menjadi lebih kecil.

Namun, penguatan harga emas belum sepenuhnya lepas dari sejumlah risiko eksternal. Perkembangan konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz masih menjadi perhatian investor.

Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Akan tetapi, perkembangan situasi di kawasan tersebut juga dapat memicu perubahan cepat pada sentimen pasar sehingga pergerakan harga emas berpotensi tetap volatil.

Selain faktor kebijakan moneter AS dan geopolitik, permintaan dari bank sentral juga menjadi penopang penting bagi harga emas global.

Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBoC) kembali menambah cadangan emas pada Juli. Penambahan tersebut menjadi bagian dari tren akumulasi emas yang telah berlangsung selama 21 bulan berturut-turut.

Cadangan emas China bertambah sekitar 640 ribu troy ounce pada Juli sehingga total kepemilikannya mencapai sekitar 76,08 juta troy ounce.

Konsistensi pembelian tersebut menunjukkan bahwa permintaan institusional terhadap emas masih kuat. Selain bank sentral, produk investasi berbasis emas di China juga masih mencatat minat pembelian, memperlihatkan bahwa logam mulia tetap menjadi salah satu instrumen yang diminati investor.

Di sisi teknikal, pergerakan emas kini menghadapi area penting yang dapat menentukan arah perdagangan berikutnya.

Analis Pasar Senior IG, Tony Sycamore, menilai harga emas berhadapan dengan level resistance di sekitar USD4.460 per ons. Di atas level tersebut terdapat rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di kisaran USD4.495 per ons.

Menurut analisis tersebut, emas perlu menembus sekaligus mempertahankan perdagangan di atas kedua level tersebut agar peluang kenaikan berikutnya semakin terbuka.

Jika mampu melewati area resistance tersebut dengan kuat, harga emas berpotensi melanjutkan tren penguatan dan membuka ruang menuju target psikologis USD5.000 per ons.

Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dapat membuat investor kembali melakukan aksi ambil untung setelah harga emas mengalami reli panjang. Pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, data ekonomi berikutnya, serta keputusan The Fed akan menjadi faktor yang menentukan arah emas dalam jangka pendek.

Dengan demikian, meski sentimen terhadap emas masih cenderung positif, investor tetap perlu mencermati kombinasi antara kebijakan moneter AS, perkembangan inflasi, kondisi geopolitik, serta permintaan bank sentral. Keempat faktor tersebut berpotensi menentukan apakah penguatan emas dapat berlanjut atau justru menghadapi tekanan koreksi.

- Advertisement -

BACA LAINNYA

Suami Bunuh Istri, Kasus Terungkap 2 Tahun Kemudian

JCCNetwork.id-Polisi mengungkap kasus pembunuhan seorang ibu rumah tangga berinisial SS (22) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, yang selama dua tahun tidak diketahui keluarga korban.Dalam...

BERITA TERBARU

EKONOMI

TERPOPULER