JCCNetwork.id- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat di seluruh wilayah Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi basah seiring masih berlangsungnya ancaman cuaca ekstrem di sejumlah daerah.
Bencana yang perlu diantisipasi meliputi banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga angin puting beliung. Kondisi cuaca dengan intensitas hujan tinggi berpotensi memicu bencana tersebut, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi di berbagai provinsi dan pulau di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Berton pada Jumat (30/10). Menurut dia, masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan dengan memperhatikan perkembangan informasi cuaca sekaligus mempersiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi kemungkinan bencana.
BNPB menilai upaya pencegahan sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk menekan risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana. Kesiapan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah dan petugas penanggulangan bencana.
Dalam menghadapi ancaman banjir, masyarakat diimbau melakukan kegiatan gotong royong membersihkan saluran drainase agar aliran air tidak tersumbat. Warga juga diminta melakukan pemantauan atau susur sungai dengan pendampingan petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan kondisi aliran sungai tetap terpantau, sekaligus mendeteksi lebih awal apabila terdapat potensi luapan air yang dapat mengancam permukiman.
Selain membersihkan saluran air, masyarakat diminta mengetahui lokasi dan jalur evakuasi yang aman apabila sewaktu-waktu terjadi banjir. Persiapan perlengkapan darurat juga perlu dilakukan agar warga tidak mengalami kesulitan ketika harus meninggalkan rumah dalam situasi mendesak.
BNPB mengingatkan masyarakat untuk menyiapkan tas siaga bencana yang berisi berbagai kebutuhan pokok. Perlengkapan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar selama sedikitnya tiga hari ketika masyarakat berada dalam kondisi darurat atau harus mengungsi.
Pemeriksaan terhadap infrastruktur pendukung pengendalian air juga menjadi bagian penting dalam upaya mengantisipasi banjir. Pemerintah daerah diminta memastikan kondisi bendungan, sungai, serta fasilitas lainnya dalam keadaan aman dan berfungsi dengan baik.
Pengecekan secara berkala diperlukan untuk mengetahui potensi kerusakan maupun hambatan yang dapat meningkatkan risiko bencana ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Dengan demikian, langkah penanganan dapat segera dilakukan sebelum situasi berkembang menjadi lebih serius.
Sementara itu, untuk menghadapi ancaman angin kencang dan puting beliung, BNPB meminta masyarakat memastikan kondisi bangunan rumah tetap kokoh, terutama pada bagian atap.
Konstruksi atap yang tidak kuat berisiko mengalami kerusakan atau terlepas ketika diterjang angin kencang. Karena itu, warga perlu memeriksa bagian bangunan yang berpotensi membahayakan keselamatan penghuni.
Pemangkasan ranting pohon yang sudah rapuh atau berpotensi patah juga perlu dilakukan, baik di sekitar kawasan permukiman maupun ruang publik. Pohon dengan kondisi tidak stabil dapat tumbang ketika terjadi angin kencang dan menimpa rumah, kendaraan, maupun pengguna jalan.
BNPB turut mengingatkan masyarakat agar tidak berlindung di dekat benda-benda yang berisiko roboh saat cuaca buruk. Papan reklame dan pohon besar yang kondisinya tidak kokoh menjadi sejumlah objek yang perlu dihindari ketika angin bertiup kencang.
Adapun masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dan daerah rawan longsor diminta lebih waspada, khususnya ketika hujan lebat berlangsung dalam waktu lama.
Warga yang berada di wilayah dengan potensi pergerakan tanah diimbau segera melakukan evakuasi apabila kondisi hujan dinilai membahayakan. Langkah penyelamatan lebih awal diperlukan untuk menghindari risiko tertimbun material longsor.
Selain memperhatikan intensitas dan durasi hujan, masyarakat juga perlu mengenali sejumlah tanda awal terjadinya tanah longsor. Salah satu indikasi yang harus diwaspadai adalah munculnya retakan pada permukaan tanah maupun lantai bangunan.
“Kemudian, identifikasi tanda-tanda bahaya longsor seperti munculnya retakan pada tanah maupun lantai,” jelas Berton.
Retakan tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama apabila muncul setelah hujan deras atau semakin melebar. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan perubahan kondisi lingkungan karena tanda-tanda tersebut dapat menjadi indikasi awal terjadinya pergerakan tanah.
BNPB menegaskan bahwa pengenalan terhadap potensi bahaya di lingkungan tempat tinggal menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak bencana. Dengan memahami tanda-tanda awal, masyarakat diharapkan dapat segera mengambil tindakan penyelamatan sebelum kondisi semakin memburuk.
Sejumlah Wilayah Berstatus Siaga Hujan Lebat
Di sisi lain, BNPB memperkirakan ancaman hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Beberapa daerah bahkan masuk dalam kategori status siaga sehingga membutuhkan perhatian dan kesiapan lebih tinggi.
Wilayah yang diperkirakan mengalami potensi hujan lebat hingga sangat lebat dengan status siaga meliputi Aceh, Lampung, Bengkulu, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.
Sementara itu, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berstatus waspada diperkirakan menjangkau wilayah yang lebih luas.
Daerah tersebut mencakup seluruh kawasan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga Papua.
Luasnya wilayah yang masuk dalam kategori waspada menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi kemungkinan perubahan kondisi cuaca dalam beberapa waktu ke depan.
BNPB mengimbau masyarakat tidak menunggu sampai bencana terjadi untuk melakukan langkah antisipasi. Kesiapan perlengkapan darurat, pemahaman jalur evakuasi, pemantauan informasi cuaca, serta kepedulian terhadap kondisi lingkungan perlu menjadi perhatian bersama.
Pemerintah daerah juga diharapkan meningkatkan koordinasi dengan BPBD dan unsur terkait untuk memastikan kesiapan personel maupun sarana penanganan bencana.
Melalui peningkatan kewaspadaan dan mitigasi sejak dini, risiko bencana hidrometeorologi basah diharapkan dapat ditekan. Masyarakat pun diminta segera mengikuti arahan petugas apabila kondisi di wilayah tempat tinggal menunjukkan tanda-tanda berbahaya.

