JCCNetwork.id- Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama dengan sejumlah perusahaan asal Amerika Serikat untuk mengembangkan ekosistem hidrogen sebagai salah satu sumber energi masa depan.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengatakan, peluang kolaborasi tersebut sejalan dengan perhatian Amerika Serikat terhadap pengembangan hidrogen sebagai alternatif energi terbarukan. Indonesia sendiri dinilai memiliki potensi hidrogen yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kita akan kerja sama juga dengan beberapa perusahaan dari Amerika,” ujar Yuliot ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat.
Menurut Yuliot, pengembangan hidrogen menjadi salah satu bagian penting dalam upaya memperkuat diversifikasi sumber energi. Potensi yang dimiliki Indonesia dinilai dapat dikembangkan lebih jauh melalui kerja sama dengan mitra internasional, termasuk perusahaan dari Amerika Serikat.
Ia menyebutkan, Indonesia saat ini telah memiliki produksi hidrogen yang menunjukkan adanya surplus. Berdasarkan data PT PLN (Persero), produksi hidrogen mencapai sekitar 200 ton per tahun, sementara pemanfaatannya baru berada di kisaran 75 ton per tahun.
Dengan kondisi tersebut, terdapat surplus sekitar 125 ton hidrogen per tahun yang masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.
“Amerika kan mengembangkan hidrogen untuk sumber energi. Kita kan memiliki indikasinya, cadangan hidrogen kan cukup besar. Ini belum kita usahakan. Jadi, kita akan kerja sama,” ucap Yuliot.
93 Proyek Hidrogen
Kementerian ESDM sebelumnya mencatat terdapat 93 proyek inisiatif yang berkaitan dengan pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia. Keseluruhan proyek tersebut memiliki nilai investasi yang diperkirakan mencapai Rp32 triliun.
Pengembangan proyek hidrogen tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sumber energi baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar diesel, khususnya di wilayah yang belum memiliki akses energi secara optimal.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan pengembangan proyek tersebut dilakukan sesuai arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Menurut Eniya, salah satu fokus pengembangan ekosistem hidrogen diarahkan pada konsep dedieselisasi. Konsep tersebut mendorong penggunaan sumber energi yang lebih bersih untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar diesel.
Salah satu contoh penerapannya berada di Pulau Rengit. Pemerintah telah menjalin kerja sama dengan PT PLN untuk mengembangkan konsep tersebut melalui pemanfaatan energi surya dan hidrogen.
Dalam proyek itu, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) digunakan sebagai sumber energi di wilayah terpencil. Sementara itu, hidrogen dimanfaatkan sebagai media penyimpanan energi sehingga pasokan listrik dapat dikelola secara lebih fleksibel.
Pengembangan tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menguji penerapan teknologi energi bersih secara langsung di wilayah yang selama ini masih memiliki keterbatasan infrastruktur energi.
Perkuat Ketahanan Energi
Eniya menilai pemanfaatan hidrogen berpotensi memberikan kontribusi terhadap peningkatan ketahanan energi nasional. Pengembangan sumber energi tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan energi Indonesia sekaligus mengurangi ketergantungan pada sumber energi tertentu.
Ia memperkirakan tingkat ketahanan energi Indonesia yang saat ini berada pada posisi 7 dari skala 10 dapat meningkat menjadi 8 apabila pemanfaatan hidrogen dan sumber energi baru lainnya dikembangkan secara optimal.
Namun, pengembangan ekosistem hidrogen membutuhkan dukungan lintas sektor. Pemerintah tidak dapat berjalan sendiri karena pembangunan rantai pasok hidrogen membutuhkan teknologi, pembiayaan, riset, sumber daya manusia, hingga kesiapan industri.
Karena itu, Eniya menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, badan usaha milik negara (BUMN), pelaku industri, lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta mitra internasional.
Kerja sama dengan perusahaan asing, termasuk dari Amerika Serikat, diharapkan dapat membuka akses terhadap teknologi dan investasi sekaligus mempercepat pengembangan industri hidrogen di dalam negeri.
Dengan potensi produksi yang belum sepenuhnya terserap dan puluhan proyek yang tengah dikembangkan, pemerintah kini mendorong agar hidrogen tidak berhenti sebagai proyek percontohan. Pengembangan ekosistem secara terintegrasi menjadi langkah yang disiapkan untuk menjadikan hidrogen sebagai salah satu komponen dalam sistem energi Indonesia di masa mendatang.




