JCCNetwork.id- Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur resmi menuntaskan proses identifikasi terhadap seluruh korban tragedi runtuhnya musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Sebanyak 67 jenazah yang sebelumnya dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya kini telah diketahui identitasnya seluruhnya.
Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes Pol M. Khusnan Marzuki, mengatakan bahwa dengan selesainya tahapan identifikasi, fokus kerja kepolisian kini beralih ke proses investigasi untuk menelusuri penyebab utama insiden tersebut.
“Dengan selesainya identifikasi ini, maka penanganan selanjutnya akan difokuskan pada proses penyelidikan, penyebab insiden serta evaluasi keamanan bangunan di lingkungan pesantren,” kata Kabid Dokkes Polda Jatim, Kombes M. Khusnan Marzuki, di RS Bhayangkara Surabaya, Rabu (15/10) malam.
Pada malam yang sama, lima kantong jenazah terakhir berhasil diidentifikasi. Dengan demikian, seluruh korban dalam 67 kantong jenazah telah terverifikasi.
“Dengan diidentifikasi lima jenazah terakhir, seluruh korban dari 67 kantong jenazah yang diterima telah teridentifikasi seluruhnya,” kata Khusnan.
Kelima korban terakhir yang berhasil diidentifikasi adalah Sholihan (17) asal Bangkalan, Raihan Rafa Aldiyansyah (14) asal Bangkalan, Fairuz Shirojuddin (16) asal Sidoarjo, Moch. Defa Sharifuddin (17) asal Nganjuk, dan Zaky (12) asal Sampang.
Menurut Khusnan, proses identifikasi dilakukan melalui tiga metode ilmiah, yakni pembandingan DNA, pemeriksaan medis, serta analisis properti atau barang pribadi korban.
“Hasilnya dinyatakan cocok dengan data ante mortem yang dilaporkan keluarga,” katanya.
Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan dilakukan dengan kehati-hatian tinggi dan mengedepankan prinsip profesionalisme demi memastikan akurasi identitas korban.
“Kami pastikan setiap korban teridentifikasi dengan metode ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Semua jenazah kini telah dikenali dan akan diserahkan kepada pihak keluarga,” kata Khusnan.
Runtuhnya musala Ponpes Al Khoziny terjadi pada 29 September 2025 dan menelan puluhan korban jiwa, sebagian besar merupakan santri yang sedang melaksanakan kegiatan keagamaan. Pascakejadian, Polda Jawa Timur bersama tim gabungan segera melakukan evakuasi dan mengirimkan Tim DVI untuk proses identifikasi.
Kini, setelah seluruh korban teridentifikasi, Polda Jatim akan melanjutkan penyelidikan mendalam untuk mengungkap faktor penyebab runtuhnya bangunan, termasuk aspek konstruksi, perizinan, dan keselamatan lingkungan pesantren.
























