JCCNetwork.id- Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengajak masyarakat menjadikan Hari Batik Nasional sebagai momentum untuk menjaga keberlangsungan batik sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.
Hari Batik Nasional diperingati setiap 2 Oktober. Dalam momentum peringatan tahun 2026, Dasco menyoroti pentingnya keberadaan para perajin yang selama ini menjadi bagian utama dalam menjaga tradisi batik tetap hidup dan berkembang.
Dasco menegaskan, pelestarian batik tidak cukup hanya dilakukan dengan mempertahankan motif dan tradisinya. Menurut dia, keberlangsungan budaya batik juga harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan para perajin.
“Batik harus terus hidup, dan perajinnya harus ikut sejahtera,” kata Dasco dikutip dari Instagram @sufmi_dasco, Jumat, 2 Oktober 2026.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra tersebut menyampaikan komitmennya untuk mendorong penguatan berbagai aspek yang dapat mendukung kehidupan para perajin batik. Hal itu antara lain berkaitan dengan perlindungan, pembinaan, hingga terbukanya akses pasar yang lebih luas bagi produk batik.
Dasco menilai dukungan terhadap perajin menjadi bagian penting dari upaya menjaga batik agar tidak berhenti sebagai warisan budaya, tetapi tetap memiliki keberlanjutan di tengah perkembangan zaman.
“Perlindungan, pembinaan, dan akses pasar bagi mereka perlu terus diperkuat,” ungkap Dasco.
Selain menyoroti aspek ekonomi dan keberlangsungan profesi perajin, Dasco juga menilai batik memiliki nilai yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Keragaman motif yang berkembang di berbagai daerah, menurutnya, menggambarkan keberagaman Indonesia yang tetap dapat berada dalam satu kesatuan.
“Dari ragam motif yang berbeda, kita belajar hidup berdampingan,” sebut Dasco.
Ia menjelaskan, batik berkembang dari berbagai daerah di Indonesia dengan karakter dan corak yang berbeda-beda. Keunikan tersebut kemudian diwariskan secara turun-temurun sehingga membentuk kekayaan budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Menurut Dasco, keberagaman tersebut justru memperlihatkan bagaimana perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika ditempatkan dalam satu kesatuan. Batik dari berbagai daerah tidak harus memiliki corak yang sama untuk menjadi bagian dari identitas Indonesia.
“Di Hari Batik Nasional, kekayaan corak itu tampak begitu nyata. Ketika dikenakan bersama, semuanya membentuk satu wajah Indonesia,” ujar Dasco.
Peringatan Hari Batik Nasional pun menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah dan masyarakat sebagai pengguna, tetapi juga para perajin yang secara langsung mempertahankan keterampilan dan tradisi membatik.
Dengan dukungan terhadap perlindungan perajin, pembinaan kemampuan, serta perluasan akses pasar, keberadaan batik diharapkan tetap memiliki ruang untuk berkembang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor tersebut.
Bagi Dasco, keberagaman motif batik yang berasal dari berbagai daerah menunjukkan kekayaan budaya Indonesia. Pada saat yang sama, keberadaan para perajin menjadi unsur penting agar warisan tersebut dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya.



