JCCNetwork.id- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jawa Barat terus menjadi perhatian seiring meluasnya wilayah terdampak sepanjang 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat sebanyak 526 kejadian karhutla dengan total luas lahan yang terbakar mencapai 1.082,76 hektare.
Berdasarkan rekapitulasi data infografis BPBD Jawa Barat yang diperbarui hingga Selasa, kebakaran tersebut tersebar di 357 desa dan kelurahan, mencakup 185 kecamatan di 23 kabupaten/kota. Data itu menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi telah menjangkau berbagai daerah di Jawa Barat.
Kabupaten Subang menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar sekaligus mencatat frekuensi kejadian tertinggi. BPBD Jabar melaporkan sebanyak 119 insiden karhutla di daerah tersebut dengan total area terdampak mencapai 355 hektare.
Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat Hardjasasmita, membenarkan besarnya akumulasi kejadian tersebut saat dikonfirmasi di Bandung, Selasa.
“Data rekapitulasi karhutla mencatat 526 kejadian melanda 185 kecamatan di 23 kabupaten/kota dengan total area terbakar mencapai 1.082,76 hektare,” kata Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat Hardjasasmita ketika dikonfirmasi terkait data di Bandung, Selasa.
Sumedang dan Ciamis Catat Luas Kebakaran Signifikan
Setelah Subang, Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar berikutnya. Sebanyak 75 kejadian tercatat di wilayah tersebut, dengan luas lahan yang terbakar mencapai 141,56 hektare.
Kabupaten Ciamis menempati urutan berikutnya berdasarkan luas area terdampak, yakni 94,08 hektare dari 60 kejadian. Sementara itu, Kabupaten Garut mencatat kebakaran seluas 90,85 hektare yang berasal dari 17 insiden.
Wilayah lain yang mengalami kebakaran dalam skala cukup luas adalah Kabupaten Majalengka dengan 77,94 hektare dari 27 kejadian. Kabupaten Kuningan mencatat 77,13 hektare lahan terbakar dalam 23 kejadian, sedangkan Kabupaten Sukabumi mengalami karhutla seluas 71,07 hektare dari 38 kejadian.
Kabupaten Tasikmalaya juga masuk dalam daftar daerah terdampak. Berdasarkan data BPBD Jabar, luas lahan yang terbakar di wilayah tersebut mencapai 45,19 hektare. Angka itu tercatat dalam satu kejadian, sehingga menjadi salah satu wilayah dengan luas kebakaran yang besar meskipun frekuensi insidennya relatif rendah.
Besarnya luas area yang terbakar di sejumlah kabupaten tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla perlu memperhatikan kondisi dan karakteristik masing-masing wilayah. Selain jumlah kejadian, luas lahan yang terdampak juga menjadi indikator penting untuk menentukan kebutuhan penanganan di lapangan.
Kabupaten Bandung hingga Bogor Turut Terdampak
Karhutla juga terjadi di sejumlah kabupaten lain dengan luasan puluhan hektare. Kabupaten Bandung mencatat 32 kejadian dengan total area terbakar 36,45 hektare.
Di Kabupaten Cirebon, BPBD Jabar melaporkan 14 kejadian dengan luas lahan terdampak 23,73 hektare. Kabupaten Pangandaran mencatat sembilan kejadian yang menghanguskan 21,07 hektare lahan.
Sementara itu, Kabupaten Purwakarta mengalami 20 kejadian karhutla dengan luas area terbakar 10,92 hektare. Kabupaten Bogor mencatat 14 kejadian dengan total luas lahan terdampak 9,95 hektare.
Di sejumlah daerah lainnya, luas kebakaran tercatat di bawah 10 hektare. Kabupaten Cianjur melaporkan delapan kejadian dengan luas lahan terbakar 7,40 hektare, sedangkan Kota Sukabumi mengalami 11 kejadian dengan total area terdampak 7,21 hektare.
Kota Tasikmalaya mencatat satu kejadian dengan luas kebakaran lima hektare. Adapun Kota Cirebon mengalami satu kejadian yang mengakibatkan 3,32 hektare lahan terbakar.
Kebakaran juga tercatat di Kota Bandung dengan lima kejadian dan luas area 1,58 hektare. Kabupaten Karawang melaporkan 10 kejadian yang menghanguskan 1,05 hektare lahan.
Kabupaten Bandung Barat mencatat empat kejadian, Kota Depok dua kejadian, sedangkan Kota Cimahi mengalami dua kejadian dengan luas lahan terbakar 0,08 hektare. Kota Bekasi melaporkan satu kejadian dengan luas yang sama, sementara Kabupaten Indramayu mencatat satu kejadian dengan luas area terbakar 0,05 hektare.
Adapun Kota Banjar tercatat mengalami 33 kejadian karhutla. Angka tersebut menempatkan kota itu di antara wilayah dengan frekuensi insiden cukup tinggi, meskipun data yang disampaikan tidak mencantumkan luas total lahan terbakar di daerah tersebut.
Subang Catat Frekuensi Kebakaran Tertinggi
Jika dilihat berdasarkan jumlah kejadian, Kabupaten Subang berada di posisi teratas dengan 119 insiden sepanjang 2026. Kabupaten Sumedang menyusul dengan 75 kejadian, kemudian Kabupaten Ciamis sebanyak 60 kejadian.
Kabupaten Sukabumi berada di urutan berikutnya dengan 38 kejadian, disusul Kota Banjar dengan 33 kejadian dan Kabupaten Bandung sebanyak 32 kejadian.
Perbedaan antara jumlah insiden dan luas lahan terbakar di masing-masing daerah memperlihatkan bahwa frekuensi kebakaran tidak selalu sebanding dengan luas area yang terdampak. Karena itu, upaya penanganan perlu mempertimbangkan kedua aspek tersebut, termasuk potensi meluasnya api dan kondisi wilayah yang mengalami kebakaran.
Data tersebut juga menjadi pengingat pentingnya langkah pencegahan di tingkat masyarakat. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar, apabila dilakukan tanpa pengendalian yang memadai, berpotensi memicu kebakaran yang sulit dikendalikan, terutama ketika kondisi lingkungan mendukung penyebaran api.
BPBD Imbau Masyarakat Hindari Pembakaran Lahan
Menghadapi tingginya akumulasi kejadian karhutla, BPBD Provinsi Jawa Barat meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, khususnya di tengah kondisi musim kemarau yang dapat meningkatkan risiko kebakaran di kawasan hutan maupun lahan terbuka.
Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Pencegahan sejak awal dinilai penting untuk mengurangi kemungkinan munculnya titik api yang kemudian berkembang menjadi kebakaran lebih luas.
Selain itu, warga diminta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar dan segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran. Pelaporan lebih awal dapat membantu mempercepat respons petugas sebelum api meluas dan menjangkau kawasan lain.
BPBD Jawa Barat juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan saluran komunikasi yang tersedia ketika membutuhkan informasi atau hendak melaporkan kejadian kebencanaan.
Untuk keperluan tersebut, masyarakat dapat menghubungi posko kebencanaan melalui call center BPBD Jawa Barat di nomor 0899-9404-629.
Dengan jumlah kejadian yang telah mencapai ratusan dan luas area terbakar melampaui 1.000 hektare, upaya pencegahan dan kewaspadaan bersama menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko karhutla di Jawa Barat. Peran masyarakat dalam menghindari pembakaran lahan serta melaporkan kemunculan api sejak dini diharapkan dapat membantu menekan potensi bertambahnya wilayah terdampak sepanjang 2026.
























