JCCNetwork.id – Perubahan warna perairan di Samudra Pasifik ekuator menjadi salah satu indikasi perubahan kondisi ekosistem laut yang dikaitkan dengan fenomena El Niño.
Berdasarkan laporan Daily Mail pada Selasa (20/10/2026), citra satelit NASA menunjukkan perubahan rona perairan dari hijau menjadi biru yang diduga berkaitan dengan berkurangnya fitoplankton akibat perubahan suhu laut.
“Rona hijau yang menandai kesuburan biologis laut pun lenyap, digantikan oleh hamparan air berwarna biru tua yang bersih namun miskin kehidupan ekologis,” tulis Dailymail, Selasa (20/10/2026).
Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis yang melakukan fotosintesis dan berperan penting dalam rantai makanan laut.
Keberadaan organisme ini juga memengaruhi warna permukaan laut, terutama karena kandungan pigmen yang dimilikinya.
Perubahan suhu laut selama El Niño dapat menghambat proses naiknya air dingin dari lapisan laut dalam ke permukaan atau upwelling.
Padahal, proses tersebut membawa nutrisi yang dibutuhkan fitoplankton untuk tumbuh.
Ketika pasokan nutrisi berkurang, produktivitas biologis di sejumlah wilayah laut berpotensi menurun.
Fenomena tersebut dipantau menggunakan satelit PACE (Plankton, Aerosol, Cloud, Ocean Ecosystem) milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Satelit yang diluncurkan pada 2024 itu dilengkapi instrumen pengamatan warna laut untuk mempelajari fitoplankton, aerosol, serta berbagai komponen ekosistem laut.
Data pengamatan satelit memungkinkan para peneliti memantau perubahan karakteristik perairan dan mengkaji kaitannya dengan dinamika suhu serta produktivitas biologis laut.
Selain perubahan warna perairan, perkembangan El Niño juga berkaitan dengan pergerakan massa air hangat di Samudra Pasifik.
Salah satu mekanismenya melibatkan Kelvin waves, yakni gelombang laut yang dapat membawa anomali suhu hangat dari wilayah Pasifik barat menuju bagian timur.
Pergerakan massa air hangat tersebut dapat memengaruhi tinggi muka laut.
Pemanasan menyebabkan air laut memuai sehingga permukaan laut di sejumlah kawasan dapat mengalami kenaikan, sementara perubahan pola angin dan sirkulasi laut dapat memengaruhi kondisi perairan di kawasan lain.
Dampak El Niño juga dapat dirasakan di wilayah pesisir Amerika Selatan dan California, serta kawasan Indonesia dan Australia.
Besarnya perubahan muka laut dan suhu di masing-masing wilayah bergantung pada perkembangan fenomena iklim serta kondisi oseanografi setempat.
Penurunan populasi fitoplankton berpotensi mengganggu rantai makanan laut karena organisme tersebut menjadi sumber makanan bagi berbagai makhluk hidup, termasuk zooplankton dan sejumlah spesies ikan.
Jika ketersediaan makanan menurun, hewan laut dapat mengalami perubahan pola mencari makan maupun perpindahan habitat.
Para ilmuwan memanfaatkan pengamatan satelit untuk memahami hubungan antara perubahan suhu laut, sirkulasi samudra, dan produktivitas ekosistem.
Pemantauan tersebut penting untuk mengidentifikasi dampak El Niño terhadap lingkungan laut dan memperkirakan potensi konsekuensinya bagi kehidupan masyarakat pesisir serta sektor perikanan.
Meski demikian, tingkat keparahan dampak yang ditimbulkan tetap bergantung pada intensitas dan durasi El Niño, kondisi perairan di setiap kawasan, serta hasil pengamatan ilmiah yang terus diperbarui.
























