JCCNetwork.id- Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Selasa (6/10/2026) pagi. Aktivitas vulkanik tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 900 meter di atas puncak gunung.
Erupsi tercatat terjadi pada pukul 05.29 WIB. Berdasarkan laporan Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, tinggi kolom letusan mencapai sekitar 900 meter dari atas puncak atau berada pada ketinggian sekitar 4.576 meter di atas permukaan laut (mdpl).
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 05.29 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 900 meter di atas puncak atau 4.576 meter di atas permukaan laut,” kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, seperti dilansir Antara, Selasa, 6 Oktober 2026.
Kolom abu yang keluar dari kawah tampak berwarna kelabu dengan intensitas tebal. Material vulkanik tersebut teramati bergerak ke arah timur laut.
Aktivitas erupsi juga tercatat cukup kuat pada peralatan pemantauan kegempaan. Seismograf merekam amplitudo maksimum 21 milimeter dengan durasi erupsi mencapai 135 detik.
“Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi 135 detik,” tuturnya.
Erupsi pada pagi hari tersebut bukan merupakan aktivitas pertama Gunung Semeru pada hari yang sama. Beberapa jam sebelumnya, gunung api tersebut juga mengalami erupsi pada pukul 02.03 WIB.
Namun, letusan yang terjadi dini hari itu tidak dapat diamati secara visual karena kondisi puncak gunung tertutup kabut. Kendati demikian, aktivitas tersebut tetap terekam oleh seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan berlangsung selama 142 detik.
Dengan adanya rangkaian aktivitas tersebut, kondisi Gunung Semeru masih berada pada status Level III atau Siaga. Status tersebut menjadi dasar bagi masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang ditetapkan oleh otoritas pemantauan gunung api.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk zona rawan bahaya, khususnya pada sektor tenggara Gunung Semeru. Pembatasan berlaku di sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak yang menjadi pusat erupsi.
Ancaman bahaya tidak hanya berasal dari material erupsi yang jatuh di sekitar puncak. Pergerakan awan panas dan aliran lahar juga berpotensi meluas mengikuti alur sungai yang berhulu di kawasan Gunung Semeru.
Karena itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Wilayah tersebut dinilai berisiko terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak.
“Di luar jarak tersebut, masyarakat juga tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak,” katanya.
Selain kawasan aliran sungai, radius lima kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru juga dinyatakan sebagai area yang harus dihindari. Zona tersebut memiliki potensi bahaya lontaran batu pijar sehingga masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di dalamnya.
Petugas juga mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap sejumlah ancaman susulan akibat aktivitas vulkanik Gunung Semeru. Bahaya yang perlu diantisipasi meliputi awan panas, guguran lava, serta lahar yang dapat bergerak melalui lembah dan aliran sungai.
Kewaspadaan terutama diperlukan di sejumlah jalur sungai yang berhulu dari kawasan puncak, antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Selain itu, potensi aliran lahar juga dapat muncul di sungai-sungai kecil yang menjadi anak sungai Besuk Kobokan. Kondisi tersebut membuat masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar aliran sungai diminta tidak mengabaikan perkembangan aktivitas Gunung Semeru.
“Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan,” ujarnya.
Aktivitas erupsi Gunung Semeru yang terjadi dua kali sejak dini hari hingga pagi tersebut menunjukkan bahwa kondisi gunung masih perlu mendapat perhatian serius. Masyarakat di kawasan rawan bencana diminta mengikuti informasi resmi dari petugas dan tidak memasuki wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya.
























