JCCNetwork.id-Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menggelar latihan militer angkatan laut di Selat Hormuz, Senin (16/2/2026), di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan menjelang putaran kedua perundingan nuklir tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Eropa.
Dalam keterangan resmi divisi hubungan masyarakat IRGC, manuver bertajuk Smart Control of the Strait of Hormuz itu difokuskan pada pengujian kesiapan operasional pasukan laut, penguatan kemampuan intelijen, serta respons cepat terhadap potensi ancaman di jalur maritim strategis tersebut.
Latihan juga mencakup simulasi pengamanan wilayah dan skenario aksi balasan terhadap berbagai kemungkinan gangguan keamanan.
IRGC menegaskan, inti latihan adalah memastikan kemampuan merespons secara cepat, tegas, dan menyeluruh terhadap apa yang disebut sebagai “plot anti-keamanan” di domain maritim.
Selain aspek teknis militer, latihan ini dinilai sebagai penegasan posisi geopolitik Iran di salah satu jalur pelayaran terpenting dunia.
Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai titik sempit krusial (choke point) perdagangan energi global.
Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk melintasi perairan tersebut, sehingga setiap eskalasi keamanan berpotensi memengaruhi stabilitas regional serta pasar energi internasional.
Di saat yang sama, dinamika politik antara Teheran dan Washington kembali menghangat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (13/2) menyatakan rencana pengerahan kapal induk kedua ke kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, kapal induk USS Abraham Lincoln beserta armada pengawalnya telah lebih dulu ditempatkan di kawasan Teluk Persia.
Dari pihak Iran, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Abdolrahim Mousavi memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi militer terhadap negaranya akan berujung pada konsekuensi serius.
Meski retorika kedua belah pihak meningkat, Iran dan Amerika Serikat tetap dijadwalkan melanjutkan perundingan nuklir di Jenewa pada Selasa (17/2) dengan mediasi Oman.
Perundingan ini menandai dimulainya kembali dialog setelah pembicaraan sebelumnya terhenti menyusul serangan udara yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Negosiasi terbaru juga berlangsung di tengah ancaman tindakan militer dari Washington terkait isu hak asasi manusia dan dugaan pengembangan program senjata nuklir tuduhan yang secara konsisten dibantah oleh Teheran.
Situasi di Selat Hormuz pun kembali menjadi sorotan internasional, mengingat setiap perkembangan keamanan di kawasan tersebut berpotensi membawa dampak luas terhadap dinamika geopolitik dan ekonomi global.



